Home / BERITA UMUM / Terjadi Gempa Susulan, Warga Dihimbau Tetap Waspada

Terjadi Gempa Susulan, Warga Dihimbau Tetap Waspada

Terjadi Gempa Susulan, Warga Dihimbau Tetap Waspada – Gempa susulan serta gerakan tanah masih tetap meneror Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pascagempa bumi 7 Taraf Richter (SR) Minggu 5 Agustus 2018 seputar jam 18. 46 WlB.

Pusat gempa yang ada dalam koordinat 116, 48o BT serta 8, 37o LS serta kedalaman 15 km. dibawah permukaan Bumi itu sudah membawa dampak 91 orang wafat, beberapa ratus luka-luka, serta beberapa ribu bangunan rusak.

“Gempa bumi pada Minggu 5 Agustus 2018 itu juga memunculkan dua tsunami kecil di Carik serta Badas, Lombok Timur. Ketinggian maksimal tsunami kecil di Carik menggapai 0, 13 mtr. serta di Badas 0, 1 mtr., ” kata Kepala Pusat Vulkanologi serta Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Tubuh Geologi, Kementerian Daya serta Sumber Daya Mineral (ESDM) Kasbani.

Dia menyampaikan, tidak cuman sebab kapabilitas gempa lumayan besar, 7, 0 SR serta berpusat di kedalaman dangkal 15 km, bencana ini memunculkan resiko lumayan besar sebab sejumlah besar bangunan di Pulau Lombok, NTB gak tahan gempa baik dengan tehnis ataupun bahan bangunan.

Area bangunan lantas ada di daerah patahan atau sesar Flores Back Arc. Sejumlah besar korban baik wafat ataupun luka-luka, diakibatkan oleh tertimpa puing-puing bangunan.

“Bangunan disana, baik rumah masyarakat, ataupun gedung pemerintah serta komersial, di bangun dengan tehnik serta bahan gak pantas gempa. Meskipun sebenarnya Lombok serta seputarnya masuk dalam area kuning atau daerah riskan bencana (KRB) gempa bumi, ” kata Kasbani.

Buat memahami lebih terperinci sehubungan gempa Minggu 5 Agustus 2018, ujar dia, sebentar sehabis mendapat info, PVMBG memberangkatkan team buat lakukan pengecekan pada resiko gempa bumi. Team itu misalnya, ketua team Sri Hidayati, anggota Supartoyo, Amalfi Omang, serta Gangsar Turiono.

“Berdasarkan area pusat serta resiko gempa bumi, jadi gempa bumi pada 29 Juli 2018 serta 5 Agustus 2018 disebabkan oleh sesar patahan aktif tipe besar naik pada area sesar busur belakang Flores atau Flores Back Arc, ” kata Kasbani dalam pertemuan pers sehubungan gempa Lombok di Kantor PVMBG Tubuh Geologi, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (6/8/2018).

Kasbani menyampaikan, berdasar pada laporan team, gempa bumi itu disertai oleh serangkalan gempa bumi susulan. Dengan memandang tempat, kedalaman serta mekanismenya’ gempa bumi yang berlangsung pada Minggu 5 Agustus 2018, diramalkan datang dari area sesar yang sama.

Dia memaparkan, Lombok Timur serta Lombok Utara adalah daerah yang dekat dengan area pusat gempa bumi. Daerah itu adalah dataran sampai perbukitan curam. Berdasar pada peta geologi, PuIau Lombok yang disusun oleh Pusat Survey Geologi, Tubuh Geologi serta penilaian lapangan, dataran tersusun oleh endapan Kuarter, menguasai batuan rombakan gunung api muda yang sudah alami pelapukan.

“Batuan rombakan gunung api muda yang sudah alami pelapukan kebanyakan miliki sifat urai, terlepas, belumlah kompak memperkokoh dampak memperkokoh goncangan atau amplitikasi, hingga riskan pada goncangan gempa bumi, ” papar dia.

Dalam peta Daerah Riskan Bencana (KRB) Gempa bumi NTB yang diluncurkan oleh Tubuh Geologi, ujar Kasbani, Lombok Utara serta Lombok Timur ada dalam KRB Gempa bumi Menengah yang punya harapan punya intensitas goncangan gempa bumi VII VIII MML. Hasil survey Team Tanggap Darurat Gempa bumi memperlihatkan kalau resiko gempa bumi di ke dua daerah pada rata-rata VII-VIII MMI.

“Berdasarkan penilaian lapangan, sebaran rusaknya bangunan menguasai di Lombok Timur serta Lombok Utara. Team juga lakukan sosialisasi pada penduduk serta aparat ditempat di daerah bencana buat kurangi keresahan serta kepanikan penduduk, ” ujar Kasbani.

Pantauan team PVMBG, papar dia, berlangsung pergerakan tanah yang dipicu oleh gempa bumi, berwujud patahan dinding tebing, longsoran tebing berulang, retakan berdasar pada keadaan di lapangan kala pengecekan di arah pendakian serta seputar Plawangan, Sembalun. Dengan keadaan retakan serta kegempaan yang masih tetap kerap berlangsung, bisa diambil kesimpulan kalau masih tetap ada kemampuan longsor serta runtuhan batu di seputar arah pendakian, Plawangan.

PVMBG mereferensikan, penduduk mesti waspada gempa bumi susulan yang dayanya lebih kecil dari gempa bumi utama. Hindarkan bangun diatas tanah rawa, sawah, serta tanah urug yang tidak penuhi syarat-syarat tehnis, sebab riskan pada goncangan gempa bumi.

Bangunan di arah retakan tanah diusahakan tidak akan di bangun ditempat sama serta dipindahkan dari arah retakan itu. Lantaran itu, Pemprov NTB mesti selekasnya lakukan revisi Perda Gagasan Tata Ruangan serta Lokasi (RTRW).

Hindarkan bangun pada bagian bawah serta lereng curam yang sudah alami pelapukan serta keadaan tanah gembur sebab akan punya harapan berlangsung pergerakan tanah atau longsor apabila diguncang gempa bumi.

“Jika dilaksanakan kesibukan berkenaan dengan penyisiran penelusuran pendaki yang peluang masih tetap ada di seputar lahan Gunung Rinjani, semestinya dilaksanakan dengan mencermati keadaan pergerakan tanah berlangsung serta intensitas kegempaan, ” tutup Kasbani.

About admin